Isu Bumi
  • image01
  • image02
  • image03

Skema Percontohan Terong Transgenik Di Bangladesh Gagal

“Serbuan hama, hasil rendah produk yang tidak diinginkan dan budidaya tak berlisensi karena Terong BT dipaksakan kepada warga Asia Selatan”.

Ditulis oleh: Dr. Eva Sirinathsinghji

Sebuah proyek percontohan untuk budidaya komersial terong rekayasa genetik Bt (Bacillus thuringiensis) juga pertama di Asia, mendatangkan hasil yang mengecewakan bagi 9 dari 20 petani sebagaimana dilaporkan baru-baru ini pada koran Guardian[1]. Empat varietas; Kajla, Uttara, Nayantara dan ISD006, ditanam pada wilayah-wilayah dengan iklim yang berbeda.

Terong merupakan salah satu hasil panen yang terpenting di Bangladesh baik untuk konsumsi dan ekspor, sehingga pembudidayaan varietas tersebut beresiko kesehatan dan ekonomi yang luas bagi penduduk. Memang, daerah tersebut merupakan pusat asal maupun keragaman genetik terong, dan harus dilindungi dari kontaminasi genetis seperti disarankan dalam Protocol Cartagena tentang Keamanan hayati (biosafety). Ketenaran serta pentingnya terong sebagai tanaman pangan membuat terong menjadi target utama para pendukung rekayasa genetik dalam menyebarkan teknologi-teknologi rekayasa genetik ke negara tersebut maupun ke wilayah yang lebih luas, termasuk India, yang masih memberlakukan moratorium.

Moratorium India dilaksanakan setelah ada pertentangan keras dari berbagai kelompok-kelompok masyarakat sipil, peneliti terkemuka, para pemerintah daerah di wilayah-wilayah penanam terong, serta dari penduduk dan kelompok-kelompok lingkungan. Pembudidayaan terong tersebut di Bangladesh juga telah menyebabkan kontroversi yang serupa, dengan 100 organisasi-organisasi masyarakat sipil melayangkan protes kepada Perdana Menteri Bangladesh. Hasil-hasil yang mengecewakan ini akan memundurkan pihak-pihak yang mendukung projek tersebut.

Jurnalis-jurnalis Guardian menghubungi 19 dari 20 petani dan mengunjungi 7, dengan 9 dari jurnalis tersebut melaporkan masalah-masalah antara lain penyakit layu bakteri dan kekeringan, walau tanaman terong mampu mengusir hama sasaran, hama pengerek batang dan buah. Gazifur satu wilayah yang memiliki tingkat kegagalan 4 dari 5 perkebunan, menyebabkan kerugian keuangan besar bagi para petaninya. Ada kampanye sengit oleh kelompok-kelompok pro-rekayasa genetik untuk menutupi hasil-hasil ini, menuduh kelompok-kelompok anti rekayasa genetik berkata bohong tentang kegagalan hasil panen, namun laporan baru ini memberikan infromasi terperinci tentang para petani dan ladang-ladang mereka, disertai foto tanaman yang mati.

Melanjutkan kontroversi tersebut, Institute Penelitian Pertanian Bangladesh (BARI-Bangladesh Agricultural Research Institute) menjalankan skema percontohan dengan dukungan USAid (program bantuan pemerintah Amerika Serikat) dan Universitas Cornel, tampaknya tidak mengikuti berberapa ketentuan dalam kesepakatan lisensi sehingga menimbulkan pertanyaan atas legalitas skema percontohan tersebut. Ketentuan-ketentuan tersebut antara lain pelabelan yang tepat, perumusan rencana produksi ladang, rencana pengeleloaan keamanan hayati ladang, langkah-langkah keamanan seperti rencana pengelolaan jarak isolasi, perencanaan pengelolaan baris perbatasan, dan teknik-teknik perlindungan varietas asli maupun lokal dan tanaman-tanaman liar. BARI mengakui bahwa mereka tidak mengunjungi ladang sebelum penanaman. Selanjutnya, laporan-laporan pemberian label yang tidak tepat membuat para penduduk benar-benar tidak mengetahui apa yang mereka beli.[3,4]

Terong Bt pertama dikembangkan oleh Mahyco, cabang wilayah India Monsanto, untuk pembudidayaan di India, namun Moratorium telah mencegah komersialiasinya sampai otoritas regulator mandiri mampu melaksanakan sendiri uji keamanannya.[5] Percobaan-percobaan lapangan dihentikan di Filipina pada tahun 2011 setelah nyata bahwa penelitian-penelitian itu tidak mematuhi syarat-syarat konsultasi publik[6]. Sejak itu, teknologi Bt dialihkan dan diperluas kepada varietas lokal Bangladesh pada tahun 2013 disetujui, meski didasari pada data keamanan yang benar-benar sama yang tersedia oleh Mahyco yang digunakana India untuk menolak tanaman tersebut, dengan konflik kepentingan yang jelas.

Selanjutnya, pengujian-pengujian kemananan yang dilaksanakan Mahyco terbatas sampai 3 bulan, tentunya tidak dapat memberikan wawasan tentang efek jangka panjang apapun atas tanaman tersebut. Studi-studi mandiri tentang tanaman-tanaman terong Bt telah mengungkap toksisitas, termasuk respon kebal (resistensi), kerusakan organ internal dan masalah-masalah pernafasan. Uji toksisitas sebelumnya dinilai oleh Profesor Seralini dan timnya dari Greenpeace India tentang varietas-varietas terong Bt yang semula ditujukan untuk India menunjukan gangguan kandungan nutrisi; efek pada kandungan kimia dalam darah kelinci dan kambing; dan perubahan dalam sapi menyusui termasuk pertambahan berat badan, peningkatan produksi susu dan asupan serat kasar, efek pada tikus-tikus termasuk peningkatan konsumsi air, penurunan berat hati dan berat hati hingga badan serta diare.

Sayangnya, sistem regulasi keamanan hayati Bangladesh lemah dan kekurangan laboratorium mandiri, sehingga Bangladesh rentan terhadap eksploitasi oleh korporasi-korporasi maupun institusi-institusi Rekayasa Genetik. Budidaya terong Bt di Bangladesh juga memberikan implikasi bagi negara-negara perbatasan seperti India karena penyerbukan silang menyebabkan kekuatiran kontaminasi genetik bukan hanya bagi Bangladesh. Meski India telah melarang budidaya terong Bt, proyek skema percontohan ini terjadi di kawasan-kawasan berbatasan dengan negara India. Seperti terjadi sebelumnya, penyebaran ilegal tanaman-tanaman rekayasa genetik lintas batas telah mamaksa legalisasi tanaman rekayasa genetik oleh negara-negara seperti Brazil, oleh karena kesulitan memusnahkan tanaman ketika tanaman tersebut telah tumbuh[9]. Hal ini mungkin terjadi di India.

Perdebatan lain berpusat pada hak kekayaan intelektual tanaman terong Bt tersebut yang telah diklaim secara bebas dimiliki oleh institusi-institusi publik rakyat Bangladesh. Namun, teknologi Bt masih dimiliki oleh Perusahaan Benih Hibrida Mahyco Mahrasthra (Mahyco Mahrasthra Hybrid Seed Company Ltd). Meski selama skema percobaan ini, benih-benih tersebut telah didistribusikan secara bebas kepada para petani tanpa biaya royalti, namun ada kekuatiran bahwa Hak atas kekayaan intelektual akan menjadi masalah di masa depan. Menurut perjanjian tripartit, yang dikenal sebagai Perjanjian Sathguru ditandatangani pada tanggal 14 Maret 2005 antara BARI, Perusahaan MAHYCO (Maharastro Hybrid Seed Company) dan perusahaan konsultan swasta PT. Sathguru Management, hak atas kekayaan Intelektual tetap di tangan Monsanto dan MAHYCO. Dalam Perjanjian tersebut, MAHYCO adalah sub pemberi lisensi dan BARI adalah pihak lain dan kolaborator dalam Proyek Dukungan proyek Bioteknologi Pertanian ke II (Agricultural Biotechnology Support Project-ABSP) di Bangladesh. Selanjutnya, Jika setelah skema percontohan, pembudiayaan skala besar diperbolehkan, ratusan varietas lokal akan dikembangkan dengan gen Bt untuk menghasilkan tanaman-tanaman rekayasa genetik baru yang bisa dipatenkan[3].

Para petani Bangladesh yang terperangkap dalam kudeta korporasi terhadap matapencaharian mereka harus menanggung konsekuensi atas sebuah teknologi yang tidak dapat memberikan keberhasilan jangka panjang untuk ladang, kesehatan atau lingkungan sekitar mereka. Kegagalan dalam skema percontohan ini mungkin hanya sekedar berkah yang diperlukan para petani untuk terhindar dari skema percontohan tersebut – Third World Network Features (Juli 2014)

Referensi
1. Bangladeshi farmers caught in row over $600,000 GM aubergine trial. Guardian.com, diakses 30t Juni 2014. http://www.theguardian.com/environment/2014/jun/05/gm-crop-bangladesh-bt-brinjal
2. Ho MW. Don’t Grow Bt Brinjal. Science in Society 61, 25, 2014.
3.Bt Brinjal: Non-compliance of approval terms! Ubinig.org, diakses 1 July 2014. http://www.ubinig.org/index.php/home/showAerticle/58/English
4. Approval of Bt Brinjal: From India to Bangladesh. DhakaTribune.com , diakeses 1 July 2014. http://www.dhakatribune.com/long-form/2014/jan/16/approval-bt-brinjal-india-bangladesh
5. India says no – for now – to first GM vegetable. Scidev.com, diakses 1 July 2014.

http://www.scidev.net/global/biotechnology/news/india-says-no-for-now-to-first-gm-vegetable.html

6. GM eggplant trials suspended in Philippines. SciDev.com, diakses 1 July, 2014.

http://www.scidev.net/global/biotechnology/news/gm-eggplant-trials-suspended-in-philippines.html

7. Ho MW & Sirinathsinghji. Ban GMOS Now, ISIS, London, Juni 2013. http://www.i-sis.org.uk/Ban_GMOs_Now.php
8. Burcher S. Bt Brinjal Unfit for Human Consumption. Science in Society 41, 50-51, 2009.
9. Confronting contamination: 5 reasons to reject co-existence. Seedling, April 2004. http://www.grain.org/es/article/entries/206-confronting-contamination-5-reasons-to-reject-co-existence

Eva Sirinathsinghji adalah seorang peneliti dan staf penulis di Institute of Science in Society (ISIS).

Artikel diatas direproduksi dari laporan ISIS 7 Juli 2014. Dapat diakses di http://www.twn.my

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>