Isu Bumi
  • image01
  • image02
  • image03

Perbedaan Besar Menjelang Pertemuan Iklim Di Paris

Oleh Martin Khor

Banyak yang diharapkan dari pentingnya konferensi iklim Paris, tapi begitu banyak perbedaan besar antara negara-negara dan waktu hampir habis.

(Artikel ini pertama kali diterbitkan The Star, 26 Oktober 2015)

Dalam waktu sebulan lagi, Konferensi Perubahan Iklim PBB akan berlangsung di Paris Perancis pada tanggal 30 November 2015 mendatang. Banyak yang diharapkan dari pertemuan ini, sebagai perjanjian internasional baru tentang bagaimana menangani perubahan iklim.

Tetapi para Pihak (negara peserta) Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) masih sangat jauh dari detil pada isi, struktur dan sifat hukum dari perjanjian ini.

Ada harapan yang tinggi karena situasi perubahan iklim terus menjadi krisis yang parah, atau bahkan memburuk.

Krisis ini ditandai dengan rata-rata suhu global tertinggi, kabut asap yang panjang selama berbulan-bulan akibat pembakaran hutan di Asia Tenggara, hujan deras menyebabkan banjir di banyak bagian dunia, serta topan dan badai.

Dengan latar belakang ini, sesi perundingan yang berlangsung di Bonn Jerman beberapa waktu lalu, bertujuan membuat kemajuan pada teks perjanjian yang diharapkan disimpulkan di Paris. Tapi ada begitu banyak perbedaan pada begitu banyak isu sehingga akan menyebabkan upaya lebih keras untuk mencapai kesepakatan dalam dua minggu di Paris.

Sesi Perundingan Bonn menunjukkan bahwa negara maju dan berkembang, atau Utara dan Selatan, masih dibagi pada isu-isu kunci dari mitigasi, adaptasi, keuangan, dan teknologi.

Yang paling penting, mereka sangat berbeda pada apa yang merupakan tanggung jawab dan kewajiban antara Utara dan Selatan dalam perjanjian baru.

Perjanjian Paris akan hadir di bawah Konvensi Iklim PBB. Menurut Konvensi yang ditetapkan pada tahun 1992 ini, negara-negara maju berkewajiban untuk melakukan kewajiban lebih, termasuk dalam mengurangi Gas Rumah Kaca dan dalam menyediakan keuangan dan teknologi untuk negara-negara berkembang.

Negara-negara berkembang juga memiliki kewajiban untuk mengambil tindakan mitigasi dan adaptasi. Negara-negara berkembang juga mengakui bahwa pengentasan kemiskinan dan pembangunan ekonomi adalah prioritas utama mereka, dan sejauh mana tindakan iklim mereka tergantung pada tingkat dukungan keuangan dan teknologi yang mereka terima.

Ketentuan dan struktur Konvensi dibangun di atas prinsip keadilan ini, termasuk gagasan “common but differentiated responsibilities” (umum tapi dengan tanggungjawab berbeda). Semua negara harus mengambil tindakan, tetapi negara-negara kaya harus berbuat lebih banyak.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara maju telah berusaha untuk mengubah sifat dari Konvensi. Dipimpin oleh Amerika Serikat, mereka ingin menghapus perbedaan antara negara maju dan berkembang, sehingga semua negara wajib mengambil tindakan yang sama dari komitmen mitigasi.

Selain itu, mereka sangat ingin melonggarkan kewajiban Utara untuk memberikan dana atau transfer teknologi ke Selatan. Mereka ingin negara-negara berkembang untuk membuat komitmen yang sama seperti mereka untuk memotong emisi, dan menghubungkannya dari dana atau teknologi yang mereka terima.

Negara-negara maju telah membuat usulan bahwa Perjanjian Paris perlu menggabungkan ide-ide ini. Tapi ide ini gigih ditentang oleh negara-negara berkembang yang berpendapat bahwa menerima ide ini sama saja dengan menggulingkan konvensi yang ada karena bertentangan dengan prinsip-prinsip utama dari UNFCCC.

Dan perjanjian Paris hadir di bawah UNFCCC, sehingga harus sejalan dengan dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dan ketentuan di atasnya, yang merupakan konvensi.

Negara-negara berkembang melewati perjuangan yang berat di Bonn pekan lalu karena Ketua bersama komite mempersiapkan Paris mengeluarkan draft perjanjian Paris yang mendukung pandangan negara-negara maju.

Rancangan Ketua Bersama, seorang Amerika dan Aljazair, yang seharusnya menjadi dasar untuk perundingan. Tapi menghadapi badai kritik dari kelompok negara-negara berkembang ‘termasuk G77 dan China, Afrika Group dan Like Minded Developing Countries (LMDC).
Kritik meliputi bahwa:
• Rancangan Perjanjian di satu sisi mendukung negara-negara maju.
• Rancangan ini berangkat dari prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi, terutama Pasal 4 nya.
• Tidak ada perbedaan antara negara maju dan berkembang dalam ketentuan operasional yang diusulkan. Mereka semua diperlakukan secara sama seperti, menghilangkan pengertian tentang tanggung jawab historis dan ekuitas.
• Dalam mitigasi, ada penurunan tingkat kewajiban negara-negara maju dan meningkatkan kewajiban negara berkembang.
• Fokusnya adalah pada mitigasi, dengan tidak ada kewajiban bagi negara-negara maju untuk menyediakan dana yang dibutuhkan (dengan tidak menyebutkan atau peta jalan (roadmap) ke perjanjian sebelumnya pada US $ 100 miliar per tahun pada tahun 2020).

Duta Besar Afrika Selatan, Nozipho Mxakato, berbicara untuk G77 dan China, mengatakan teks ketua bersama, “Tampaknya mencoba untuk menulis ulang, menafsirkan dan mengganti Konvensi. Hal ini sangat tidak seimbang dan miring, sejauh bahwa hal itu membahayakan kepentingan dan posisi negara-negara berkembang.”

Negara-negara berkembang bersikeras bahwa negara-negara diperbolehkan untuk memasukkan usulan mereka sendiri ke draft rancangan ketua bersama ini, sehingga lebih baik dalam mencerminkan pandangan mereka.

Hal ini disetujui, sehingga sebagian besar dari perundingan pekan lalu melibatkan negara (dan kelompok mereka) yang membuat usulan untuk menyuntikkan ide-ide dan teks mereka sendiri pada rancangan.

Memiliki ide-ide dari berbagai negara pada rancangan baru dari perjanjian Paris lebih inklusif dan demokratis. Negara-negara kemudian dapat melihat pilihan yang berbeda dan mencoba untuk setuju.

Masalahnya adalah pertama bahwa perbedaan dasar (terutama antara Utara dan Selatan) masih ada, dan kedua, waktu hampir habis. Bagaimana menjembatani perbedaan yang tampaknya tak terjembatani antara negara-negara dalam 10 atau 12 hari kerja di Paris, ketika mereka belum mampu melakukannya selama bertahun-tahun?

Sementara itu, sekelompok organisasi masyarakat sipil penting pekan lalu menerbitkan sebuah laporan yang menganalisis apakah tindakan pengurangan emisi yang disampaikan oleh negara-negara cukup untuk mengatasi perubahan iklim dan apakah masing-masing negara melakukannya dengan “adil” memberikan kontribusi bagi aksi global.

Tindakan negara-negara itu telah disampaikan sebagai ” kontribusi yang ditentukan secara nasional” (atau INDCs), dan ini adalah fitur utama dari perjanjian Paris.

Keadilan sebuah negara tergantung pada dua faktor: tanggung jawab sejarah, (yaitu kontribusinya terhadap perubahan iklim dalam hal emisi kumulatif selama bertahun-tahun), dan kapasitas untuk mengambil tindakan iklim, menggunakan pendapatan nasional atas dan di atas apa yang dibutuhkan untuk memberikan standar hidup dasar sebagai indikator utama.

LSM yang terlibat dalam penelitian ini meliputi Action Aid Internasional, Gerakan Masyarakat Asia atas Hutang dan Pengembangan (Asian Peoples Movement on Debt and Development), Pusat Hukum Lingkungan Internasional (Center for International Environmental Law), Christian Aid, CIDSE, Eco Equity, Friends of the Earth International, Trade Union Confederation Internasional, LDC Watch International, Oxfam, Pan African Climate Justice Alliance, Third World Network, What Next Forum, dan WWF.

Temuan kunci dari penelitian ini meliputi:
• Bersama-sama, komitmen penyerapan di INDCs tidak akan menjaga suhu di bawah 2 ° C, apalagi 1,5 ° C, di atas tingkat pra-industri. Bahkan jika semua negara memenuhi komitmen INDC mereka, dunia mungkin menghangat mencapai 3 ° C atau lebih, dengan tipe sistem perubahan iklim mengarah bencana yang signifikan.
• INDCs saat ini menunjukkan kurangnya dari setengah dari pengurangan emisi yang diperlukan pada tahun 2030. Ambisi semua negara maju utama kurang dari seharusnya, yang tidak hanya mencakup tindakan domestik tetapi juga keuangan internasional. Dengan kesenjangan pelik antara ambisi iklim mereka dan yang seharusnya meliputi:
• Rusia: INDC menunjukkan kontribusi nol dari pembagian yang adil;
• Jepang: INDC menunjukkan kontribusi sekitar sepersepuluh dari pembagian yang adil
• Amerika Serikat: INDC menunjukkan kontribusi sekitar seperlima dari pembagian yang adil
• Uni Eropa: INDC menunjukkan kontribusi lebih dari seperlima dari pembagian yang adil
• Sebagian besar negara maju memiliki pembagian/kewajiban adil yang sudah terlalu besar untuk dipenuhi secara eksklusif dalam batas kemampuan mereka. Karenanya sisa pembagian yang adil wajarnya harus dicapai dengan memungkinkan jumlah yang setara dengan pengurangan emisi di negara-negara berkembang melalui pembiayaan dan dukungan lainnya. Hal ini menyumbang hampir setengah dari pengurangan yang perlu dilakukan secara global, yang menunjukkan kebutuhan untuk ekspansi besar keuangan internasional, teknologi dan dukungan pengembangan kapasitas.
• Meskipun pendanaan iklim sangat penting bagi negara-negara maju untuk memberikan pembagian yang adil, ada kekurangan mencolok dari komitmen yang jelas. Peningkatan keuangan publik internasional besar-besaran diperlukan untuk mendukung upaya negara-negara berkembang. Selain itu, pembiayaan iklim publik yang meningkat secara signifikan diperlukan untuk memenuhi biaya adaptasi, dan untuk menutup kerugian dan kerusakan di negara-negara berkembang, terutama untuk yang paling rentan.
• Mayoritas negara-negara berkembang telah membuat janji mitigasi yang melebihi atau lebih luas dari bagian mereka, tetapi mereka juga memiliki potensi mitigasi yang melebihi janji mereka dan seharusnya.

Perundingan Bonn beberapa waktu lalu dan temuan yang sangat signifikan oleh Ornop tersebut menunjukkan betapa pentingnya, sekaligus kompleks dan sulit untuk mendapatkan kesepakatan Paris yang baik.

Sebuah perjanjian yang baik, yang harus cukup ambisius untuk menjaga kenaikan suhu dunia 2 derajat Celsius, dan itu harus adil sehingga negara-negara merasa, mereka tidak dirisak untuk melakukan lebih dari bagian mereka.

Hal ini juga berarti negara-negara maju yang kuat harus melangkah lebih jauh dan memimpin dalam mengurangi emisi mereka secara memadai dan sesuai dengan ” pembagian yang adil “, juga menyediakan sarana untuk negara-negara berkembang untuk mengambil tindakan iklim yang cukup.

Dan negara-negara berkembang, dengan jaminan tindakan serius dari negara-negara maju, dan dengan komitmen mereka yang kuat pada keuangan dan teknologi, akan menjadi lebih percaya diri untuk membuat janji ambisius tentang mitigasi dan adaptasi.

Mengingat bahwa masih ada begitu banyak perbedaan dasar dengan hanya lima minggu sebelum Konferensi Paris dimulai, hal itu akan mengambil lompatan besar, keajaiban, untuk mencapai suatu kesepakatan yang sukses.

(Artikel dengan versi lebih pendek ini pertama kali diterbitkan The Star, 26 Oktober 2015) . Diterjemahkan dari TWN Info Service on Climate Change (Oct15/03) 29 October 2015 dengan judul Big divides remain just a month before Paris climate meeting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>