Isu Bumi
  • image01
  • image02
  • image03

Pengurangan Emisi: Ya atau Tidak?

Disarikan Ani Purwati – 15 Dec 2009

Pembahasan tentang komitmen pengurangan emisi oleh negara-negara maju di bawah Protokol Kyoto hampir masuk krisis pada hari Rabu (9/12), ketika dua negara maju mengumumkan komitmen oleh pemerintah mereka yang tidak dilakukan dalam konteks kewajiban mereka di bawah Protokol. Demikian menurut laporan Hira Jhamtani dari Third World Network, di Kopenhagen (10/12).

Hal ini telah membuat marah sebagian besar negara berkembang. Gambia (untuk Kelompok Afrika) menantang apakah negara maju akan benar-benar memberikan angka-angka untuk periode komitmen berikutnya (setelah 2012), dan Brazil mengatakan tidak mungkin untuk bekerja dengan cara ini.
 
Perdebatan terjadi di salah satu contact groups di bawah Kelompok Kerja Ad Hoc tentang Komitmen Selanjutnya oleh Annex I di bawah Protokol Kyoto (AWG-KP) yang dikenal sebagai kelompok angka. Tugas kelompok ini adalah menyimpulkan kerja pada target pengurangan emisi terukur untuk periode komitemen kedua dan selanjutnya oleh negara-negara maju (dikenal sebagai Pihak Annex I pada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim-UNFCC); periode komitmen pertama 2008-2012, dimana Annex I wajib mengurangi gas rumah kaca (GHG) emisi sebesar 5,2% di bawah tahun 1990.

Dalam laporannya Jhamtani menyebutkan bahwa keputusan periode komitmen kedua dan selanjutnya harus dibuat pada tahun 2009 agar tidak memiliki celah ketika periode komitmen pertama berakhir pada tahun 2012. Dengan demikian, ini adalah kesempatan terakhir untuk melakukannya, namun belum ada kesepakatan dalam bentuk angka.

Negara-negara maju telah membuat pernyataan berapa banyak mereka bersedia melakukan pengurangan pada 2020. Pengumuman ini telah disusun oleh sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) dalam beberapa catatan informal sejak Agustus 2009, sampai 8 Desember 2009. Berdasarkan perhitungan sekretariat, diharapkan pengurangan emisi kumpulan Annex I (minus AS yang bukan merupakan pihak dalam Protokol Kyoto), diperkirakan antara 16 dan 23 % di bawah tingkat 1990 pada 2020 tanpa menggunakan LULUCF (penggunaan tanah, perubahan pemanfaatan lahan dan kehutanan) tetapi termasuk emisi dari deforestasi. Jika LULUCF disertakan, bentuk penguranganakan antara 16 dan 22 persen.

Contact group tentang angka telah menetapkan untuk membahas transparansi di sekitar bilangan yang dijanjikan negara-negara maju, termasuk penggunaan LULUCF dan mekanisme pasar (yang disebut mekanisme fleksibel dalam Protokol Kyoto, seperti perdagangan karbon (carbon trading) dan Mekanisme Pembangunan Bersih-Clean Development Mechanism). Sebelumnya wakil ketua Gertraud Wollansky dari Austria melaporkan hasil kelompok-kelompok kecil yang membahas panjangnya masalah, waktu periode komitmen dan tahun dasar. Ini adalah beberapa isu yang harus diselesaikan di samping angka-angka pengurangan emisi.

Wollansky mengatakan preferensi untuk satu tahun dasar yang mengikat secara hukum (1990 adalah salah satu dari yang saat ini pengurangan terukur), tetapi beberapa pihak mengatakan bahwa itu harus memungkinkan Para Pihak memilih tahun dasar yang berbeda. Para pihak dapat memutuskan tahun dasar mana yang paling sesuai dengan situasi nasional. Sebagian besar Pihak ingin menggunakan 1990 sebagai tahun dasar tetapi beberapa pihak merasa harus ada kebebasan memilih jika Para Pihak ingin bergabung Annex B (mengambil komitmen pengurangan mengikat secara hukum) pada tahap berikutnya. Ada kesepakatan untuk menempatkan tahun referensi selain tahun dasar. Ada konsensus bahwa 1990 harus menjadi salah satu acuan tahun dengan tahun yang lain yang mungkin seperti 2000, 2005, 2006, 2007. Kelompok akan bertemu lagi untuk melanjutkan diskusi.

Pada poin ini Jepang mengatakan di antara Para Pihak yang mendukung fleksibilitas untuk tahun dasar, yang mencerminkan situasi nasional. Jepang membuat saran dalam konteks bukan hanya perubahan sederhana Protokol Kyoto. Ini merupakan masukan bagi kerangka global perubahan iklim yang komprehensif, bukan hanya merupakan perluasan dari KP. Dan masukan Jepang harus ditafsirkan dengan cara itu.

Federasi Rusia mengatakan ingin mengklarifikasi posisinya juga mengenai kemungkinan hitungan pembatasan dan pengurangan emisi terukur (Qelros) untuk Para Pihak. Rusia telah menganjurkan untuk satu hasil universal keseluruhan perundingan. Pada angka pengurangan emisi (10-15% didasarkan pada tingkat tahun 1990 di kertas sekretariat) seperti 20-25% yang diumumkan oleh presiden, ini adalah pernyataan politik presiden yang penting. Ini dibuat asalkan kita sampai pada kesepakatan substantif, universal, komprehensif.

Dikatakannya bahwa dengan Protokol Kyoto, kita menemukan solusi untuk jalur Protokol Kyoto (KP) dan LCA, dalam pandangan kita berada di tahap penting musyawarah. Kami tidak akan siap dengan angka-angka tersebut terkait KP. Pemahamannya adalah bahwa catatan oleh sekretariat bersifat informal. Kita tidak ingin menyerahkan angka-angka yang diumumkan oleh presiden (ke sekretariat), karena tidak dimaksudkan untuk Protokol Kyoto.

 Afrika Selatan yang berbicara atas nama G77 dan China bertanya apakah masukan Rusia terkait dengan serangkaian angka komitmen mereka namun tidak siap untuk menempatkannya dalam Annex B dari Protokol Kyoto; bahwa Rusia menyerahkan bentuk kepada konferensi perubahan iklim internasional tetapi tidak untuk Annex B pada periode komitmen kedua.

Sebagai tanggapan, Federasi Rusia mengatakan bahwa dia tidak bergabung secara formal di bawah KP. Catatan sekretariat adalah informal. Komitmen formal hanya mungkin bila kita sampai pada tahap perundingan.

Jepang menambahkan bahwa dia ingin membuat sangat jelas ketika pemerintah mengumumkan komitmen pengurangan emisi, diharapkan bahwa target akan menjadi bagian kerangka internasional dengan partisipasi luas dari seluruh negara-negara maju dan negara berkembang utama. Itu tidak dibuat dalam konteks Protokol Kyoto, dan dia ingin membuatnya sangat jelas.

Gambia berbicara untuk Kelompok Afrika mengatakan perhatiannya bahwa janji bukan bagian dari amandemen KP. Angka-angka (dalam catatan sekretariat) yang dimaksudkan untuk itu dan tidak bisa digunakan Para Pihak berusaha untuk kembali melacak. “Kita harus mendiskusikan dengan itikad baik,” kata Gambia. “Entah Anda memberi kami angka atau tidak, tetapi jangan memberikan angka dan kemudian mengatakan ini bukan untuk Protokol Kyoto,” katanya lagi.

Zambia mengatakan, ini berkaitan dengan penarikan pernyataan yang telah dibicarakan selama beberapa waktu. Sekarang Para Pihak kembali melacak dan memberitahu bahwa angka-angka bukan untuk Protokol Kyoto. Tapi kita duduk di ruangan ini untuk membahas masalah-masalah Protokol Kyoto, dengan bendera hitam (Para Pihak ditandai dengan dua jenis bendera. Mereka sebagai Pihak UNFCCC tetapi tidak Pihak KP (Kyoto Protocol) diberi bendera putih; sedangkan Pihak UNFCCC dan KP diberikan bendera hitam).

China mengatakan posisinya sangat jelas, mereka mengharapkan pengurangan emisi ambisius Annex B dari KP. Dia juga mengajukan usulan untuk efek itu. Diharapkan bahwa para mitra akan menghormati apa yang telah dibahas. Sejak suasana telah diracuni, China perlu membersihkan racun dengan meletakkan kembali argumen hukum.

Dikatakan bahwa komitmen hukum Annex I berada di bawah KP, tidak tergantung pada pihak lain. Di bawah KP, mereka harus memimpin pengurangan emisi, dan juga dalam menyediakan pendanaan dan dukungan teknologi. Komitmen ini harus dilakukan tanpa kondisi apapun. Sekarang mereka katakan ingin menempatkan kondisi. Ini adalah komitmen hukum dan harus menjadi dasar pembahasan. Sebagian besar non-Annex I telah mengumumkan rencana aksi mereka, beberapa di antaranya lebih ambisius daripada Annex I. “Jadi, Anda tidak bisa membuat alasan seperti itu,” kata China.

Menurutnya, usulan untuk kondisionalitas (sesuai kondisi) juga memiliki prospek meletakkan COP pada risiko. Tolong jangan lakukan itu. Kami membutuhkan keberhasilan untuk pertemuan Kopenhagen.

Venezuela mengatakan, komitmen hukum telah dibuat beberapa tahun yang lalu. Para Pihak bergabung secara sukarela, mereka juga bebas untuk meninggalkan dengan sukarela. Jika itu niat mereka, mereka harus mengatakan begitu. Kami di sini untuk mendiskusikan periode komitmen kedua di bawah KP. Sungguh aneh bagi kita untuk mendiskusikan isu-isu lain.

Brazil mengatakan kita mengalihkan sepenuhnya dari mandat kelompok. Ini berkaitan dengan apa yang Jepang dan Rusia katakan. Mereka adalah dua negara ekonomi terbesar di dunia dan harus mengambil tanggung jawab. Uni Eropa memiliki sejarah emisi yang besar, dan beberapa ekonomi terbesar ada di Eropa. Mereka bertanggung jawab atas keberhasilan konferensi Kopenhagen yang diadakan di Eropa. Kami berharap mereka tidak menyarankan kita melupakan mandat KP dan prinsip-prinsip Konvensi. Kami pikir tidak mungkin untuk bekerja seperti ini.

Bolivia mengingatkan bahwa kita di sini berdasarkan pada mandat putusan Pertemuan Para Pihak untuk Protokol yang pertama (tahun 2004), yang disepakati oleh semua Pihak. Kami bertanya-tanya jika Para Pihak yang mengatakan ingin melakukan periode komitmen kedua, sudahkah mereka mengubah pikiran mereka, dan tidak bersedia melakukannya sekarang? Bagi Bolivia, perubahan Annex B adalah batu loncatan yang sangat penting untuk memiliki hasil yang baik di AWG-KP.

Australia mengatakan bahwa salah satu tugas dari AWG-KP adalah memiliki pemahaman dan transparansi yang baik dari semua bentuk dimana negara telah menyatakannya sebagai janji. Dari perspektif Australia, kami mendukung setiap aspek UNFCCC. Untuk mengacu pada kewajiban, katanya di bawah Pasal 4.1, semua negara memiliki komitmen untuk mengambil tindakan-tindakan mitigasi. Kami menanggung bahwa dalam pikiran, kita membuat janji. Janji 2020 Australia dibuat dalam konteks KP.

Dikatakannya ada beberapa kemungkinan hasil untuk pasca-2012. Pertama, adalah sebuah perjanjian baru mengambil dari KP dan Rencana Aksi Bali di bawah UNFCCC. Kedua adalah kelanjutan dari KP ditambah keseimbangan perjanjian baru di bawah Konvensi. Janji Australia adalah untuk itu. Ini adalah kekhawatiran bahwa mitra kami mengatakan mereka tidak ingin target mengikat secara hukum di bawah Konvensi.
 
Swedia atas nama Uni Eropa mengatakan bahwa mandat kelompok adalah untuk mencapai tujuan akhir UNFCCC. Bagi Uni Eropa, ini adalah penting untuk mencapai efektivitas lingkungan hidup. Kami percaya bahwa bentuk kesepakatan berkontribusi bagi efektivitas lingkungan lingkungan hidup. Kita membutuhkan sesuatu yang mengikat. Tapi yang diperlukan kelompok yang lebih besar, tidak hanya Pihak KP, seperti KP hanya mencakup 30% dari emisi global.

Negara-negara maju lainnya seperti Kanada, Selandia Baru dan Norwegia diam.

Sebagai tanggapan China mengatakan bahwa kelompok kerja ini telah berlangsung selama hampir 4 tahun. Kita masih memperdebatkan apa mandat kita, ini aneh bagi kami. Ini sangat konyol. Mandat Berlin sangat jelas. Pertanyaannya adalah mengapa prosesnya begitu lambat, mengapa kita tidak dapat mencapai tujuan dari mandat? Itu karena Pihak Annex I yang menghalangi proses, mereka berusaha untuk menegosiasikan kembali UNFCCC, dan berusaha untuk melarikan diri dari tanggung jawab mereka.

Afrika Selatan atas nama G77 dan China mengatakan sebagai tanggapan pada Australia, bahwa memang Pasal 4,1 menetapkan semua Pihak akan melaksanakan, menerbitkan dan memperbarui program-program mengenai langkah-langkah mitigasi. Tetapi di bawah KP, apa yang kita bicarakan adalah kewajiban negara maju. Menurut Pasal 2 dari KP, khususnya negara-negara maju berkomitmen untuk melakukan tindakan mitigasi selanjutnya. Kami mohon untuk memfokuskan kerja pada KP.

Aljazair mengatakan bahwa dalam sesi sebelumnya di Barcelona, kami telah mendengar bahwa masalah angka adalah isu yang sangat politik untuk Uni Eropa dan negara maju. Kami sepakat sejak COP 11 untuk memulai diskusi pada sarana dan cara-cara tentang bagaimana mereka dapat mencapai tujuan ini. Sekarang kita mendengar pernyataan yang sama empat tahun lalu, seperti mereka tidak mengerti, membutuhkan lebih banyak penjelasan, perlu penafsiran. Apa yang mereka butuhkan lagi, kita tidak tahu. Jika mereka tidak bersedia mengajukan angka, akan sulit untuk mencapai kesepakatan di Kopenhagen. Aljazair meminta wakil ketua untuk menempel pada mandat dan mengerjakan angka para pihak pada KP untuk pengurangan emisi.

Wakil ketua kemudian melanjutkan pembahasan tentang transparansi sekitar bentuk-bentuk pernyataan pengurangan emisi. Dia menanyakan informasi dan update untuk membuat angka-angka lebih transparan.

Swedia atas nama Uni Eropa mengatakan ingin berkontribusi untuk ini. Tapi pertama-tama ia ingin meyakinkan Para Pihak bahwa Uni Eropa tidak ingin melarikan diri dari komitmen. Dia telah melakukan beberapa analisis dan masuk dalam integritas dan efektivitas lingkungan hidup, dimana skala pengurangan merupakan aspek penting.

Swedia menunjukkan grafik dan slide tentang arti dari komitmen yang dibuat oleh Annex I Parties. Satu bagian adalah tentang jumlah unit yang ditetapkan (AAUs) yang dibawa dari periode komitmen sebelumnya. (AAUs adalah karbondioksida setara dengan emisi gas rumah kaca yang diperbolehkan untuk masing-masing Pihak). Ada sekitar 10 GT dari AAUs yang belum digunakan dari periode komitmen sebelumnya. Jika 30% pengurangan emisi yang harus ditetapkan, itu akan menjadi 8 GT tanpa AAUs. Pada saat AAUs dikonsumsi, masih ada surplus sekitar 2-3 GT.

Jika aturan LULUCF saat ini digunakan, ini akan menjadi sekitar 2-3 GT. Jadi dalam 30% skenario pengurangan emisi, kita melihat emisi benar-benar meningkat.

(Catatan: Uni Eropa telah menegaskan bahwa angka-angka pengurangan emisi akan tergantung pada peraturan dan mekanisme penggunaan LULUCF; sekarang telah menambahkan faktor AAUs. Rupanya ada banyak AAUs dibawa dari negara-negara Eropa Timur dan Rusia karena kemerosotan ekonomi. Ini akan membawa kredit dalam jumlah besar kredit).

Sebagai tanggapan China mengatakan bahwa ini sangat jelas bahwa apa yang diusulkan tidak cukup. Pertanyaannya adalah bagaimana kita ingin meningkatkan itu. Kami berharap tidak mendengar lebih banyak alasan, tetapi untuk menyingsingkan lengan baju kita dan bekerja bagaimana meningkatkan pengurangan emisi.

Brazil mengatakan, pembahasan membawa AAUs dari periode komitmen sebelumnya adalah tingkat yang berbeda dari janji untuk pengurangan emisi. Aturan untuk AAUs adalah melalui keputusan CMP. Lebih mudah untuk memisahkan kedua diskusi.

Mikronesia untuk AOSIS mengatakan bahwa Uni Eropa sedang menyebutkan bahwa 30% pengurangan tidak cukup. Jika kita melihat janji mereka bahkan tidak mencapai 30% dalam kumpulan. Kita juga perlu tahu offset apa yang akan digunakan dan aturan LULUCF. Kita juga perlu melihat kelebihan AAUs. Kami telah menemukan bahwa janji yang tersusun telah termasuk AAUs. Tujuan kami adalah untuk mengurangi emisi tidak untuk mendapatkan kredit. Mikronesia menyarankan bahwa mungkin sekretariat dapat memberikan transparansi sekitar AAUs.

Sekretariat mengatakan bahwa periode komitmen pertama adalah 2008-2012. Data untuk periode komitmen pertama hanya akan tersedia tahun depan (2010). Setelah 5 tahun, kita dapat memiliki data solid surplus AAUs. Ini tidak berarti tidak dapat menyediakan data awal tentang AAUs yang dapat dibawa, tetapi akan didasarkan pada banyak asumsi yang akan membuat ketidakpastian mengenai perkiraan. Sekretariat mempertanyakan apakah informasi yang dipenuhi oleh ketidakpastian akan membantu atau tidak.

Sumber: http://www.twnside.org.sg/title2/climate/copenhagen.up.01.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>