Isu Bumi
  • image01
  • image02
  • image03

Catatan Perjalanan: Ritual Pledang Baru, Pasar Barter dan Beleo di Lamalera #2

Baleo dan Berkah Koteklema di Lamalera

Baleo adalah kata yang diteriakkan jika seseorang melihat Koteklema (mamalia jenis paus sperma) berenang mendekati laut daerah Lamalera, Kecamatan Wulandoni Kabupaten Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Saya beruntung kali ini karena bisa mendengarnya di keramaian pasar dan pesta pledang (perahu) baru di awal Mei 2016 lalu. Dan kemudian yang terlihat adalah para pria bersahutan meneriakkan, Baleo, sambil bergegas menuju pledang demikian masyarakat lokal menyebut perahu mereka dan mengejarnya.

Awal Mei lalu, saya menyaksikan puncak dari serangkaian kegiatan pesta pledang (perahu) baru bernama Kena Puka. Kegiatan ini disebut geroi tena atau pertemuan antara orang Lamalera terutama pengelola pledang Kena Puka dengan suku Lewuka dengan melabuhkan pledangnya di pasar tradisional atau fula mata di Desa Wulandoni.

Wulandoni adalah ibukota Kecamatan, jarak dari Desa Lamalera ke Wulandoni kurang-lebih tujuh kilometer, atau sekitar satu setengah jam berjalan kaki. Bagi sebagian orang, aktivitas pasar Wulandoni terlihat unik dan klasik, mereka menggunakan sistem tukar-menukar (barter) hasil panen pertanian dari gunung dengan hasil tangkapan dari laut. Bagi orang Lamalera dan sekitarnya, pasar tersebut memiliki makna mendalam lebih dari kegiatan barter.

Sayangnya, pledang baru kali ini diputuskan tidak berlabuh di pantai Wulandoni karena kegiatan pasar itu sudah pindah. Bagaimanapun upacara perahu baru tersebut harus dilaksanakan, dan pagi ini rombongan perahu Kena Puka sudah bergerak ke arah Timur dan akhirnya merapat di depan Goa Liang. Disinilah lokasi baru untuk pelaksanaan geroi tena, lokasinya kurang lebih 3 kilometer melintasi jalan darat desa. Namun acara pesta belum bisa dimulai sebab masih harus menunggu mereka selesai dari kegiatan pasar barter di desa Lamalera B.

Menurut cerita yang berhasil saya kumpulkan, upacara geroi tena adalah menceritakan kembali perjalanan leluhur mereka yang merapat ke pantai sekitar Desa Wulandoni. Kedatangan mereka pada waktu itu mula-mula ditolak suku Lefo Fuka, Udek dan Nua. Kemudian terjadilah kesepakatan di antara mereka yang dinamakan sotta fai, duduk bersama-sama di bawah pohon rindang untuk makan ketupat dan minum tuak. Diakhir acara mereka saling tukar-menukar bawaan berupa buah-buahan, sisa ketupat serta ikan. Saat hendak pulang atau berpisah, perahu baru dihiasi kembali dengan tumbuhan pantai klera lollo (istilah setempat) oleh pihak keluarga di kampung-kampung tersebut sebagai tanda bahwa mereka merestui kehadiran perahu baru tersebut. Sepanjang perjalanan pulang mereka akan berpantun berbalas-balasan.

Tiba-tiba Muncul Teriakan Baleo

Pagi hari, lewat jam 9, pasar barter berlangsung. Sementara itu di pinggir pantai Goa Liang Pledang Kena Puka sedang dilakukan persiapan upacara geroi tena.

Kotaro Kojima, seorang fotografer dan penulis asal Jepang sedang bersama dengan rombongan Kena Puka. Kotaro sudah dianggap bukan orang asing lagi di mata orang Lamalera, mulai dari anak kecil sampai orang tua telah mengenalnya. Dia sudah menghabiskan waktu kurang lebih 23 tahun lamanya, rata-rata setiap tahun paling tidak dua kali hadir bersama dengan warga sini. Sekarang mereka sedang santai menunggu rombongan dari kampung atas turun dari pasar untuk pelaksanaan acara geroi tena, tiba-tiba telepon genggam Kotaro berdering dan menerima kabar ada baleo. Teriakan kata baleo itu mengisyaratkan terlihatnya mamalia paus masuk ke area jangkuan tangkapan.

Karena upacara ini dianggap penting maka rombongan Puka Kena tetap bertahan sampai kegiatan upacara selesai. Sementara suasana kampung dan pasar terlihat semakin ramai dan sibuk, lelaki berlari-larian dan mengucapkan kata baleo. Perhatian dan jiwa seantero kampung hanya tertuju ke bangsal pledang. Di jalanan sepeda motor melaju kencang menuju bangsal pledang, sementara yang tidak punya kendaraan motor terpaksa berlari secepat dan sekuatnya. Sementara itu terlihat tiga orang yang sedang mengerjakan bangunan rumah langsung berhenti berkerja dan berlari menuju ke pledang masing-masing.

Mamalia paus itu sebetulnya tidak terlihat di depan mata namun para lamafa (juru tikam) sudah paham dan tahu persis ke arah mana gerakan mahluk itu. Jarak dari garis pantai dengan lintasan paus diperkirakan lebih dari 6 kilometer, tetapi ada nelayan yang sedang berada di tengah laut sana melihat mamalia tersebut dan segera mengirim kabar melalui pesan pendek kepada para lamafa, demikian penjelasan dari Goris Tapoona, penduduk lokal yang saya temui di Lamalera.

Menurut Goris, dulu jika terlihat mamalia paus lewat para nelayan yang sedang berada di tengah laut sana akan mengirim pesan dengan menaikan kain merah di tiang layar. Dan, para tetua di kampung segera berkumpul dan mengucapkan mantra untuk memanggil rombongan paus supaya masuk ke dalam teluk, sehingga tidak terlalu jauh untuk mengerjarnya sebab masih pakai tenaga dayung. Sekarang, karena perkembangan teknologi komunikasi, ada bantuan mesin dari pemerintah maka rata-rata pledang sudah pakai mesin motor tempel atau istilah setempat ‘johnson’.

Kesibukan di bangsal pledang mulai nampak ketika satu per satu pledang diluncurkan ke laut. Pledang-pledang perlahan bergerak ke arah Timur Tanjung Atatai untuk menghalau mamalia paus (lihat gambar peta lokasi). Pledang mereka tidak lagi menggunakan alat dayung dan laja matta (layar), tapi ditarik dengan pledang lebih kecil yang menggunakan mesin johnson.

Lokasi Kegiatan Lamalera
Gambar Peta lokasi penangkapan mamalia paus, jaraknya kurang lebih 18 Kilometer dari bangsal pledang, atau kurang lebih 6-7 kilometer dari garis pantai terdekat.

Tidak semua pledang turun ke laut hari ini. Entahlah, apakah disebabkan masalah pengorganisasian pledang atau tidak ada regenerasi dan kekurangan tenaga manusia. Sementara, rombongan besar pledang sudah bergerak kurang lebih 30 menit ke arah Timur masih ada sebuah pledang yang belum berhasil ditarik keluar dari bangsal oleh empat orang tua. Mereka terpaksa menunggu bantuan tambahan tenaga untuk menarik pledangnya ke laut. Meskipun usianya sudah tua tetapi semangat untuk pergi bersama-sama menangkap mamalia laut itu tak surut, walau akhirnya mereka tertinggal.

Masalah lain yang dijumpai saat itu yakni sebuah pledang terlambat ditarik turun ke laut karena belum punya uang membeli bahan bakar bensin. Paling sedikit dibutuhkan tiga ratus ribu rupiah untuk membeli bensin sebanyak 30 liter, dan harga satu liter di sini dijual Rp.10.000. Para penjualnya juga membeli di ibukota Lewoleba. Beruntung hari ini ada rombongan fotografer dari Jakarta yang bersedia membelikan bensin, mereka juga berkepentingan menyaksikan dan mangabadikan kegiatan penangkapan paus di sana.

Alloysius Tapoona, lamafa tua berpengalaman menjelaskan, dia pernah dibayar sama rombongan wartawan asing yang numpang pledangnya, waktu itu dibayar lima juta rupiah kerena berhasil menangkap koteklema. Selanjutnya ditambahkan, untuk jenis ikan besar lain jika berhasil ditangkap biasanya dibayar satu juta rupiah. Mungkin inilah salah satu isu dan daya tarik dari aspek wisata budaya yang bisa menjadi peluang sosial-ekonomi masyarakat setempat?

Berkah tak seindah dulu

Yang paling dinantikan seluruh warga masyarakat adalah acara pemotongan dan pembagian daging mamalia paus. Setelah bertarung menaklukan mamalia paus dari sekitar pukul 11 siang hingga kira-kira pukul 14.00 petang, seekor paus sperma berukuran lebih dari 17 meter berhasil ditarik pulang dan tiba di kampung lewat pukul 15.30 sore. Selesailah penangkapan hari ini, dan acara pemotongan dan pembagian daging paus akan dilaksanakan keesokan harinya.

Menurut tradisi bahwa hasil tangkapan seekor koteklema (paus sperma) dibagi sesuai dengan status pembagian kerja, secara umum pembagian terdiri dari tuan tanah, awak perahu dan mereka yang ikut turun ke laut, dan bagian untuk keluarga suku dan pemilik perahu. Sampai janda-janda pun akan mendapat bagian.

Jangan bertanya kepada mereka tentang data hasil tangkapan paus per tahun, dan sudah bisa ditebak jawabannya tidak memuaskan karena bukan urusannya. Namun data hasil tangkapan paus justru direkam dan dicatat dengan lengkap oleh Kotaro Kojima sejak tahun 1994 sampai sekarang. Menurutnya, hasil tangkapan terbanyak itu tercatat pada musim lefa tahun 2007 sebanyak 37 ekor, tetapi setahun sebelumnya tak seekorpun paus yang berhasil ditangkap.

Daging paus diolah dengan cara dikeringkan di bawah sinar matahari, minyaknya berfungsi untuk lampu penerangan (dulu, sebelum ada listrik) dan dimakan dagingnya. Selanjutnya daging paus kering akan ditukar (barter) pada hari pasar dengan jagung dan beras, dan bumbu masak. Beragam jenis pangan sudah mengalir masuk ke desa, dari desa sekitar bahkan pedagang “mobil box” dari ibukota kabupaten paling tidak empat kali dalam seminggu melintasi jalan desa. Hanya saja semua barang pangan itu harus dibeli dengan uang. Sebagai contoh, harga telur ayam dijual Rp.2.000 per butir sedang harga di warung setempat Rp.3.000 per butir.

Kenyataannya, mustahil sepotong daging paus bisa ditukar dengan sebutir telur ayam atau mi instan. Sementara pembagian daging paus sekarang kondisinya mulai terasa berbeda, sebab yang turun ke laut semakin banyak dan jumlah warga desa pun telah bertambah. Sehingga jatah perolehan pembagian daging paus pun semakin kecil. Misalnya, seorang janda hampir-hampir tidak mendapatkan bagian daging paus lagi seandainya dia tidak memberikan sebungkus rokok kepada si pemotong daging paus. Berkah itu tak seindah dulu lagi, demikian kata Goris.

Oleh: Ruddy Gustave – Peneliti KONPHALINDO (Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia)
Catatan: tulisan perjalaan ini merupakan bagian kedua dari dua tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>