Isu Bumi
  • image01
  • image02
  • image03

Perubahan Paradigma: Memilah Sampah Jadi Gaya Hidup Masyarakat

Ani Purwati dan Rina – 09 Sep 2008

Permasalahan sampah bukan hanya menjadi isu lokal, tetapi juga menjadi isu nasional dan global. Untuk itu dalam pengelolaannya perlu perubahan paradigma. Dalam hal ini upaya pemilahan sampah merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat.

Demikian menurut Tri Bangun L. Sony sebagai Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik dan Usaha Skala Kecil (USK), Kementerian Negara Lingkungan Hidup, di acara diskusi publik yang diselenggarakan Walhi Jakarta, di Jakarta, Kamis (4/9).

Perubahan paradigma itu meliputi perubahan image, bahwa sampah merupakan sumber daya. Lalu perubahan paradigma dalam pengelolaan, bahwa sampah harus diolah dan perubahan paradigma dalam perilaku, yaitu masyarakat yang sadar akan hak dan tanggungjawab pengelolaan sampah.

“Pemerintah sendiri tetap menjadi penangungjawab utama dalam pengelolaan sampah ini. Ini karena, pengelolaan dan penanganan sampah merupakan bentuk layanan publik dengan dukungan partisipasi masyarakat dan peran dunia swasta,” kata Sony.

Beberapa yang dilakukan pemerintah untuk memberikan bentuk layanan publik itu di antaranya revitalisasi TPA, pengembangan teknologi ramah lingkungan, alokasi anggaran, dan penyusunan NSPK.

“Masyarakat sendiri dalam melakukan partisipasinya dengan memilah sampah perlu adanya dukungan sistem atau perencanaan,” kata Nonon Saribanon, sebagai akademisi Universitas Nasional yang memperhatikan masalah sampah.

Dari hasil pengamatan Nonon, beberapa kelompok masyarakat turut berperan memilah sampah selama ada perencanaan yang jelas. Bahwa sampah yang telah dipilah akan benar-benar diolah. Selain itu perlu juga adanya insentif bagi masyarakat yang telah melakukan pengolahan sampah.

Kalangan swasta sendiri dapat berperan dalam pengelolaan sampah dengan melihat bahwa ada emas di dalam sampah. Menurut Ilhamy Elias, sebagai Ketua Komite Tetap Pelestarian Lingkungan Kadin Indonesia, perusahaan atau swasta dapat berperan dalam pengumpulan, penumpukan, transportasi, produsen pupuk organik, produsen kerajinan, bahan baku industri, pusat pengelolaan sampah, dan menjadikan sampah sebagai sumber energi.

Ke depan, menurut Sony, pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan mengolah di sekitar sumber sampah, atau di TPS terpilih. Selain itu diperlukan peran aktif dari para produsen yang menghasilkan banyak sampah dari kemasan produknya untuk dapat mengelolanya kembali.

Tercipta Oleh Sistem

Menurut Selamet Daroyni, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, persoalan sampah bukan persoalan lingkungan hidup yang berdiri sendiri, melainkan terkait dengan bangunan ekonomi politik yang diciptakan oleh sebuah sistem. Sistem sangat besar memberikan pengaruh dalam melakukan rekayasa gaya hidup perkotaan yang konsumtif.

Jakarta menghasilkan sampah sebesar 27.966 m³ (±6.000 ton/hari) atau 2,97 liter/jiwa. Atau dalam satu tahun gunungan sampai mencapai 185 kali volume Candi Borobudur (Volume Candi Borobudur = 55.000 m³).

Pada 2007, sampah yang dapat ditanggulangi rata-rata perhari kurang lebih 18.452 m³ atau 83 persen dari jumlah yang ada diangkut ke TPA. Sedangkan 13 persen diangkut dan dibuang oleh PD Pasar Jaya, dan 4 persen dimanfaatkan masyarakat dan terserap oleh alam.

Dikhawatirkan Daroyni, 13 persen sampah yang dibuang PD Pasar Jaya tersebut pada akhirnya masuk ke badan-badan sungai dan mengakibatkan pendangkalan 13 sungai di Jakarta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>