Isu Bumi
  • image01
  • image02
  • image03

Mengelola Risiko Iklim untuk Adaptasi dan Mitigasi, Inisiatif Baru dari Asia Tenggara

Irendra Radjawali – 08 Dec 2007

Pada hari Rabu, 5 Desember 2007 diadakan sebuah acara sampingan yang merupakan bagian dari Konferensi Perubahan Iklim PBB di Nusa Dua, Bali bertajuk “Mengelola Risiko Iklim untuk Adaptasi dan Mitigasi: Inisiatif Baru dari Asia Tenggara. Acara sampingan ini diselenggerakan oleh The International Research Institute for Climate and Society (IRI) yang merupakan bagian dari The Earth Institute , Universitas Columbia , di Amerika Serikat.

Sebagai pembicara adalah Dr. Anton Apriyantono (Menteri Pertanian RI, yang kemudian diwakili oleh seorang staff-nya), Dr. Rajendra Pachauri (Ketua dari IPCC, Intergovernmental Panel on Climate Change, yang baru-baru ini mendapatkan nobel perdamaian 2007, dan juga Direktur Jenderal The Energy and Resource Institute), Dr. Jeffrey D. Sachs (Direktur dari Earth Institute di Universitas Columbia, dan juga penasihat khusus Sekjen PBB, Ban Ki-moon), dan Dr. Stephen E. Zebiak (Direktur Jenderal International Research Institute for Climate and Society, Earth Institute, University of Columbia).

Acara ini dilanjutkan dengan penandatanganan sebuah MoU (memorandum of understanding) antara IRI dan Kementrian Pertanian RI tentang kerjasama yang bertujuan untuk peningkatan kapasitas untuk mengelola dampak perubahan iklim yang ekstrem serta mendorong investasi mengurangi kerentanan sebagai sebuah aspek yang penting dalam proses adaptasi perubahan iklim.

Dr. Zebiak mengemukakan pandangannya tentang belum efektifnya usaha untuk mengerti dan memahami perubahan iklim ini, terutama bagi kelompok-kelompok masyarakat yang rentan. Dr. Pachauri mengemukakan perlu dikembangkannya pengetahuan dan riset ilmiah tentang perubahan iklim ini untuk mendukung usaha mitigasi dan adaptasi. Presentasi dari Departemen Pertanian RI lebih menekankan pada paparan tentang sektor pertanian yang kemungkinan besar akan terkena dampak perubahan iklim.

Sedangkan Dr. Sachs mengemukakan empat hal penting dalam kerangka perubahan iklim ini. Pertama, investasi merupakan komponen penting dalam perubahan iklim baik untuk usaha mitigasi maupun adaptasi. Kedua, diperlukan aktifitas-aktifitas pada tingkat komunitas lokal (bukan sekedar individual). Ketiga investasi untuk aktivitas-aktivitas yang berbasis ilmu pengetahuan, dan keempat adalah kita harus fokus pada kemiskinan. Dr. Sachs juga mengemukakan tentang pentingnya berpikir dalam kerangka ketahanan pangan (food security), juga pentingnya sektor kesehatan masyarakat serta akses terhadap kebutuhan-kebutuhan mendasar (air misalnya) diperhatikan.

Menurut Dr. Sachs, isu perubahan iklim ini harus dapat dimanfaatkan untuk menemukan cara untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan. Salah satunya melalui mekanisme pendanaan publik. Dr. Sachs juga menekankan pentingnya negosiasi global untuk mitigasi dan adaptasi dimana pembangunan harus berjalan seiring dengan kesadaran akan terjadinya perubahan iklim. Dr. Sachs berharap bahwa hasil nyata dari pertemuan perubahan iklim di Bali ini adalah adanya persetujuan yang serius mengenai pembiayaan untuk usaha adaptasi bagi negara-negara miskin, serta dorongan untuk menggunakan teknologi yang lebih `hijau’.

Dr. Zebiak juga mengemukakan perlunya mempertimbangkan dengan rasional risiko apa yang akan membuat kerugian lebih besar, apakah bertindak saat ini atau tidak bertindak sama sekali. Yang diperlukan oleh negara-negara berkembang adalah ilmu pengetahuan yang `baru’, artinya ilmu pengetahuan yang dapat menerjemahkan pengetahuan umum tentang perubahan iklim ini dalam kerangka kebutuhan lokal yang spesifik. Untuk melakukan hal ini, diperlukan usaha untuk menghilangkan proses yang terlalu birokratis. Tantangan besarnya adalah bagaimana komunitas lokal dapat secara terus menerus beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi, dan tantangannya tentunya adalah persoalan pengetahuan tentang adaptasi dan perubahan iklim, juga persoalan pendanaan, yang dijawab oleh Dr. Sachs dengan investasi.

Diskusi dalam acara ini berjalan sangat menarik dengan beberapa pertanyaan kritis yang muncul dari peserta. Seperti tim beritabumi.or.id yang mempertanyakan tentang transfer teknologi dan masih sangat terbatasnya ilmu pengetahuan tentang perubahan iklim ini yang masih global dan belum melokal, sementara usaha-usaha adaptasi harus dilakukan di tingkat lokal dengan tingkat persoalan yang berbeda-beda. Dasar pemikiran yang dikembangkan sebetulnya sederhana, yaitu masyarakat miskin di negara-negara miskin dan berkembang sudah berada dalam kondisi yang rentan karena keterbatasan mereka untuk mengakses bahkan kebutuhan dasar seperti air, bahan makanan dsb. Sehingga tanpa perubahan iklim pun, kelompok ini adalah kelompok yang sudah sangat menderita.

Hal ini diperkuat dengan hasil pertemuan di Kopenhagen, Denmark, tahun 2005 yang mengemukakan bahwa persoalan yang dihadapi saat ini adalah persoalan prioritas, dimana pertemuan yang dikenal dengan nama Konsensus Konpenhagen yang dihadiri oleh beberapa pemenang nobel ekonomi dan diprakarsai oleh Bjorn Lomborg (Profesor ekonomi dari Sekolah Bisnis Kopenhagen) menempatkan persoalan iklim bukan menjadi prioritas, tetapi penyelesaian persoalan kemiskinan yang menjadi prioritas.

Tim beritabumi.or.id mengusulkan adanya penguatan-penguatan di tingkat lokal untuk usaha adaptasi dari perubahan iklim. Mengingat karakter yang sangat berbeda untuk daerah-daerah yang sangat berbeda. Sehingga yang dibutuhkan adalah pendistribusian ilmu pengetahuan tentang perubahan iklim ke tingkat lokal yang berakibat pada perlunya penguatan kapasitas penelitian dan aksi di tingkat-tingkat lokal, terutama ada kelompok masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim, dan yang pasti usaha dan keinginan yang kuat untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan.

Penguatan dan pendistribusian ilmu pengetahuan ini dapat dilakukan dengan melibatkan peneliti-peneliti lokal dari negara-negara miskin dan berkembang, yang didukung oleh akses informasi serta keinginan untuk alih teknologi serta informasi, dan kemudian bisa saja diperkuat dengan pembentukan jaringan peneliti dunia ketiga atau negara miskin dan berkembang dengan target mengoreksi, menajamkan dan melokalkan ilmu pengetahuan tentang perubahan iklim ini untuk dijadikan referensi bagi para pengambil keputusan sehingga dapat menjawab dengan tepat sasaran kebutuhan lokal berkaitan dengan perubahan iklim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>