Isu Bumi
  • image01
  • image02
  • image03

Dampak kedelai transgenik di Argentina

Redaksi – 30 Apr 2013

Berikut ini adalah kisah tentang kedelai rekayasa genetik (transgenik) Argentina di programPeople and Power, televise berita Al Jazeera. Dengan judul “Argentina’s Bad Seeds” (“Benih Buruk Argentina”), laporan ini mengisahkan komoditas ekspor Argentina yang booming(meledak) dengan pengembangan biji tanaman rekayasa genetik dan penggunaan pestisida secara agresif.

Prgram selengkapnya: http://www.aljazeera.com/programmes/peopleandpower/2013/03/201331313434142322.html

*Industri kedelai sedang booming di Argentina, tapi apa dampaknya terhadap Argentina dan tanah mereka?

Selama beberapa dekade lalu, Argentina booming (meledak) dengan komoditas ekspornya, kedelai yang sebagian besar dikembangkan dengan rekayasa genetik dan penggunaan pestisida secara agresif.

Para pemimpin Argentina mengatakan hal itu telah merubah perekonomian negara, sementara yang lain mengatakan konsekuensinya adalah lonjakan dramatis pada tingkat kanker, cacat lahir dan pencurian tanah.

Hasil investigasi People & Power menemukan jika booming industri kedelai Argentina adalah bencana.

Montenegro, seorang ahli biologi terkenal di dunia, kami temui dan wawancarai. “Saya memiliki pestisida dalam tubuh saya,” katanya. “Di sini kita semua memiliki pestisida dalam tubuh kita karena tanah sudah  jenuh dengan itu. Dan itu adalah masalah besar. Di Argentina keanekaragaman  hayati berkurang. Bahkan ditaman nasional, karena pestisida tidak melihat batas taman.” “Anda harus lihat sendiri,” katanya sambil menunjuk Land Rover-nya  dan membawa kita menuju perjalanan singkat dari Cordoba ke dataran luas yangmengelilingi kota. Di sini, sejauh mata melihat, tak  berujung hektar kedelai membentang ke cakrawala. “Lebih dari 18 juta hektar yang tertutup  kedelai transgenik tapi itu bukan semata-mata soal kedelai karena selama ini tanaman menggunakan lebih besar dari 300  jutaliter pestisida yang digunakan.”

Sebuah republik kedelai
Tak berapa lama lalu Argentina menduduki puncak dunia untuk produksi daging, tapi di sinitidak nampak ada sapi. Ini adalah gambar replikasi di seluruh negeri. Transformasi telahterjadi lebih dari satu dekade dan sebagian besar benih kedelai di Argentina disediakan olehperusahaan kimia raksasa Amerika Serikat (AS), Monsanto.

Benih rekayasa genetik perusahaan ini dirancang untuk menahan pestisida berbasisglyphosate mereka, Round-up, yang secara rutin digunakan dalam jumlah besar di seluruh negeri. Tapi menurut  para  ahli medis - dalam proses menggunakan pestisida segala sesuatu yang lain bisa diracuni,  termasuk orang. Para dokter dan ilmuwan mengklaim bahwa bayiyang lahir dengan kelainan dan dalam beberapa tahun terakhir kejadian kanker pada anaktelah melonjak. Ini adalah fenomena  yang bertepatan dengan pengenalan benih Monsanto.

Selanjutnya kami bertemu seorang yang bertanggung jawab dari Rumah Sakit Anakdi Cordoba, Dokter Medardo Vasquez. “Saya spesialis neonatal,” katanya saat kami berdiri dikoridor rumah sakit yang ramai. ”Saya melihat bayi yang baru lahir, banyak yang cacat. Saya telah memberitahu orang tuanya bahwa anak-anak mereka meninggal karena metodepertanian. Di beberapa daerah di Argentina, penyebab utama kematian anak-anak kurang dari satu tahun adalah kelainan kelahiran.”

Malvinas, Argentinas adalah daerah yang dikelilingi oleh perkebunan kedelai  dan Medardomengatakan kepada saya bahwa di sini selama musim hujan penyemprotan seringterkontaminasi dengan Glyphosate, salah satu alasan untuk terjadinya keguguran rata- rata 100 kali tingkat nasional. Membuat keadaan menjadi lebih buruk, katanya, Monsanto telah memilih desa ini untuk lokasi pabrik baru.

Kami bertemu Matias Mazzei, seorang guru di sebuah sekolah yang dekat dari pabrik yangdirencanakan. Dia dan banyak orang lainnya putus asa untuk menghentikannya. ”Akan ada240 silos penuh jagung yang telah diolah secara kimia,” katanya.

Tapi Matias dan teman-temannya tahu bahwa perjuangan mereka tidak ringan: CristinaKirchner, Presiden Argentina, merupakan salah satu pendukung terkuat Monsanto. Tahun lalu, ia tertangkap ditelevisi dengan brosur Monsanto diangannya memuji kebaikan perusahaan itu. ”Saya ingin menunjukkan prospektus Monsanto,” katanya. ”Itu membuat sayasangat bangga atas komitmen mereka berinvestasi di sini.”

“Epidemi kelainan kelahiran ‘
Keesokan harinya kami bersama seorang wanita berusia enam puluhan, Dokter Maria Del Carmen Seveso melihat beberapa anak-anak yang dipercaya telah terpengaruh oleh booming kedelai.

Adolfo Luque, anak laki-laki berumur lima tahun, tinggal bersama keluarganya di Desa Avia Terai yang dikelilingi oleh ladang kedelai. Dia lebih kecil untuk anak laki-laki seusianya, lumpuh sebagian, dan tidak akan pernah berjalan. Dia adalah salah satu dari banyak anak yang menderita sama. Ibunya, Zulema, tidak memiliki keraguan tentang apa yang ada di balik penyakit anaknya. “Saya menghabiskan usia kehamilan saya di sini. Setelah pesawat menyemprot tanaman dengan pestisida, segala sesuatu terkena racun,” ujarnya kepada kami. “Ketika Adolfo berumur 3 tahun, kami bertemu dokter di Resistencia, dokter mengatakan kepada saya bahwa fumigasi (penyemprotan) itu masalahnya. Ini sudah saya duga, ketika ia lahir, dokter setempat sudah mengatakan kepada saya.”

Kemudian kami bertemu Nadia Perez, seorang gadis kecil yang menyenangkan dengan senyum kemenangan, yang duduk di kursi roda. Dia menderita kelainan perkembangan ensefalopati. Sayangnya kondisinya progresif. Viviana, ibunya putus asa. “Tidak ada perawatan, tapi dokter mengatakan, “Jangan putus asa.” Mungkin mereka akan mengembangkan pengobatan baru, jika tidak di Argentina, mungkin di luar negeri. Saya tidak peduli apakah itu di luar negeri, saya hanya ingin perawatan. Sebuah pengobatan, obat, apapun.”

Kami bertemu anak seperti itu sebelum kembali ke ruang praktik dokter  malam itu. Di sini  dia menunjukan grafik komputer yang berisi dua grafik tajam mendaki. Satu mewakili peningkatan perkebunan kedelai selama 15 tahun terakhir sementara yang lain menggambarkan kenaikan jumlah kelainan kelahiran di seluruh provinsi pada waktu yang sama. Itu mengejutkan, hampir seperti cermin. “Saya telah berlatih kedokteran di sini selama 30 tahun,” katanya, “20 tahun yang lalu kita tidak pernah melihat kelainan seperti ini.”

Dokter Seveso menyatakan bahwa pestisida glifosat bertanggung jawab atas apa yang ia sebut sebagai “epidemi kelainan kelahiran” didukung oleh ahli embriologi terkemuka Argentina, Profesor Andres Carrasco, yang menjalankan Laboratorium Embriologi Molekuler di University of Buenos Aires. Carrasco mengamati hubungan antara glifosat dan kelanan dalam kondisi laboratorium sekitar  dua tahun yang lalu.

Mungkin tidak mengherankan, Monsanto benar-benar tidak setuju atau setidaknya prihatin dengan produk kimia mereka. Meskipun perusahaan menolak untuk diwawancarai di depan kamera, namun mereka memberi kita pernyataan tertulis dimana mereka mengatakan:

“Roundup ®merk herbisida pertanian memiliki sejarah panjang penggunaan yang aman bila digunakan sesuai dengan petunjuk label di lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Studi toksikologi yang komprehensif telah menunjukan bahwa glifosat, bahan aktif dalamRoundup® merk herbisida pertanian, tidak menyebabkan cacat lahir atau masalahreproduksi.”

Mungkin jawaban yang meyakinkan terhadap argumen ini suatu hari muncul tapi satu hal yang jelas, booming kedelai terus berlanjut dan jumlah orang yang hidupnya telah diubahterus bertambah dari tahun ke tahun. Dan mereka tidak semua korban medis. Sejumlah uang dari perkembangan kedelai ini juga telah menggusur desa menjadi perkebunan. Kami juga mendengar cerita, banyak penduduk yang meninggalkan tanah mereka.

Kami bertemu korban penyiksaan, melihat bentangan berbagai set lahan pertanian terbakar dan mengunjungi sebuah desa kecil dengan sumber airnya telah diracuni. Dalam satu komunitas kami wawancarai Mirta, ibu dari Cristian Ferreira yang dibunuh karena menolak untuk pindah – kelompok bersenjata yang bekerja untuk pemilik tanah lokal telah menembaknya. Ibunya mendengar kabar dari istri Ferreira. “Aku pergi dengan dia, dan menemukan anakku. Kakinya telah putus dengan genangan darah. Anakku sedang sekarat,” ujarnya kepada kami, dengan berurai air mata. “Mereka menembaknya sebagai peringatan, untuk memberitahunya agar berhenti membuat masalah, dan menunjukan kepadanya bahwa mereka dan investor memiliki senjata dan bisnis.”

Dengan tidak ada bantuan dari negara, penduduk desa tidak punya pilihan selain untuk membela tanah sendiri. Mocase adalah organisasi yang terdiri dari ribuan petani dan penduduk setempat yang telah datang bersama-sama mendukung masyarakat yang diserang. Maria de los Angeles Gonçalves, seorang juru bicara Mocase setuju untuk menemui kami. “Mereka membayar perusahaan keamanan swasta yang membakar sebagian besar kawasan, dan jika ada peternakan atau rumah di jalan, mereka menghancurkannya juga. Dan kemudian mereka menabur kedelai, dan pesawat tiba menyemprot agrokimia dan siklus dimulai lagi.”

Maria melukiskan gambaran suram dari situasi di Argentina bagian Utara. ”Tugas pertamagerakan kami adalah untuk membuat petani sadar akan hak dan martabat mereka, dan membujuk mereka bahwa mereka memiliki hak untuk memperjuangkan keadilan. Itu tugas kitayang paling penting. Selanjutnya, kita berjuang untuk menghentikan penggusuran, memulihkan tanah dan mengatur pertahanan. Yang berarti melindungi keanekaragaman hayati. flora, fauna, tanah, air. Dan membela cara hidup orang-orang yang tinggal di sana.”

Kami juga bertemu Norberto Yahuar, Menteri Pertanian Argentina di Boenos Aires. “Kami tidak menempatkan masyarakat kita sendiri berisiko,” menteri meyakinkan saya.”Argentina memiliki peraturan dan perlindungan lingkungan yang paling ketat di dunia terhadap pupuk dan pestisida.” Dan untuk pembunuhan dan penyiksaan di utara negara itu, ”Kami melakukan upaya besar untuk menyelesaikan masalah tanah penduduk asli (adat). Kesalahpahamantelah terjadi di beberapa provinsi dimana nilai produksi kedelai atau jagungi telah meningkatdan sejumlah masyarakat adat telah mengungsi.”

(Diterjemahkan dengan bebas dari: http://www.biosafety-info.net/article.php?aid=959)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>